SUJUD
KEMATIAN
Oleh: BS Lamappawewang
Tuhan melalui
Nabi atau manusia pilihan-Nya mengajarkan kepada umat berbagai ritual keagamaan
atau syariat sebagai medium untuk mencapai puncak pengabdian guna memuluskan
perjalanan makhluk bernama manusia menjumpai Sang Khaliq (Pencipta, Allah).
Salah
satu medium itu adalah shalat, dan di dalam shalat ada satu gerakan yang
diperintahkan dilakukan bahkan diperbanyak dan diamalkan dengan penuh
kesadaran, yaitu SUJUD. Gerakan sujud selain istimewa, juga dilakukan dua kali
dalam satu rakaat shalat. Dua kali sujud dalam satu rakaat saat shalat
ditegakkan sesungguhnya sangat filosofis. Disebut demikian karena ada pesan
yang hendak disampaikan agar manusia memiliki kesadaran penuh dalam memaknai
hidup dan kehidupannya. Ternyata dua kali sujud adalah isyarat bahwa kematian
dan kehidupan yang telah dan akan dialami manusia dalam perjalanan menuju Allah
masing-masing dua kali.
Ya...
dua kali. Dua kali mati dan dua kali hidup. Kematian pertama, saat ‘manusia’
berada di suatu alam yang disebut alam ghaib jauh sebelum manusia hadir di alam
arham. Kematian kedua saat ruh meninggalkan tubuh manusia di alam syahadah
(dunia). Kehidupan pertama manusia ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad
saat berada dalam kandungan ibunya. Sedangkan kehidupan kedua manusia saat ia
dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan setiap episode kehidupannya di alam
syahadah (dunia).
Mengapa
simbol gerakan SUJUD, mengapa bukan yang lain? Karena manusia saat SUJUD ia
menempelkan kepala di tanah (bumi) agar kesadarannya terbuka bahwa manusia
berasal dari tanah dan sekaligus mengingatkan fase kematian pertamanya. Saat
bangkit dari sujud pertama, Sang Khaliq hendak mengingatkan manusia bahwa
sebelum hidup di alam arham (rahim ibu), manusia pernah mengalami kematian
pertama di alam ghaib lalu dihidupkan untuk pertama kalinya.
Ini
adalah cara Tuhan agar manusia tidak lengah bahwa episode kehidupan di bumi (di
alam syahadah) bukanlah kehidupan yang hakiki dan sesungguhnya, walau dalam
kenyataan di bumi manusia seringkali terlena dengan ke-semusementara-an bumi
dengan segala atribut kehidupannya. Maka manusia di-SUJUD-kan kedua kalinya
untuk me-refresh kesadaran perjalanannya bahwa semua yang bernyawa pasti
berujung pada kematian (pasti memasuki alam barzakh/kubur) sebagaimana
kematian pertama yang dialaminya saat berada di alam ghaib sebelum
di-pindahtitip-kan ke alam arham.
Kematian
kedua manusia di alam syahadah bukan akhir segalanya karena kehidupan kedua di
alam akhirat berbeda secara diametral dengan kehidupan pertama di alam arham
(kandungan) dan episode kehidupan di alam syahadah (dunia). Itu sebabnya saat
seorang sâjid melakukan gerakan SUJUD kedua dalam shalat, ia kembali
bangkit dari SUJUD untuk ‘menjewer’ kesadarannya bahwa setelah kematian kedua
di dunia masih ada kehidupan kedua yang bersifat kekal dan hakiki di alam
akhirat kelak.
Allah, dalam Alquran, hendak menghentak kesadaran manusia agar betul-betul menyadari eksistensi dan pengalaman dua kematian dan dua kehidupan, dalam bentuk dan simbol SUJUD dua kali dalam shalat. Ayat itu termaktub di surah Thaha [20]: 55.
Terjemahnya:
“Dari bumi/tanah Kami menciptakan kamu dan kepada bumi/tanah Kami akan mengembalikan kamu (dengan kematian) dan dari bumi/tanah Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain (pada Hari Kiamat)”.
Karenanya,
manusia dalam meniti episode kehidupannya di bumi ini mesti menata dengan apik,
yang salah satu bentuknya adalah melakukan “SUJUD KEMATIAN” atau “SHALAT INNÂ
LILLÂHI”. Dalam kehidupan nyata, Allah kerap memperlihatkan bukti kekuasaan
ghaibnya melalui peristiwa lahiriah misalnya saat seorang hamba mengakhiri
episode kehidupannya di dunia dalam kondisi SUJUD. Dalam bahasa yang lain, ada
ungkapan keagamaan: mûtû qabla an tamûtû (matilah sebelum kalian mati
atau shalatlah sebelum kalian dishalati) agar kehidupan keduamu selamat sentosa
dan berhasil menjumpai Sang Khaliq dalam keadaan ridho dan diridhoi.
Mudah-mudahan.[]
Komentar
Posting Komentar